


See Buy enJoy
Pernahkah anda mengalami suatu masa dimana kegilaan akan suatu yang baru menderu-deru tak biasa?
Ketika tangan ini telah terbiasa dengan ulah alur sebuah alat kecil yang disebut canting, dipautnya juga hati ini. Tak berhenti aq untuk berlatih lagi dan lagi… Tak kurasa lapar, tak ada letih… tak ada kemarahan yang menjajahku selama ini.
Keingintahuan akan misteri sebuah canting telah membawa ku jauh melangkah lagi dengan membaca buku-buku tentang batik atau mencari info sebanyak kubisa lewat internet.
Aneh saja kurasa, bahwa sejak kecil aq telah terbiasa melihat bagaimana mamaku tergila-gila pada batik. Koleksi batiknya dari daerah Cirebon, Solo, Yogya, Pekalongan, dan Madura. Bahkan nenekku dimasa hidupnya masih keukeuh mengenakan batik sehari-harinya.
Ketika aq beranjak besar dilatihnya aq memakai kain batik, melipatnya dengan benar bahkan bagaimana mewirunya. Dihari tertentu mamaku menyibukan diri dengan ritual meratus batik-batiknya.
Dan kini, 20 tahun kemudian, terjebak juga diriku dalam dunia batik.
Setelah menyelesaikan kursusku, pulanglah aq ke Bali. Waktu ini aq masih punya sebuah restoran di Sanur. Di pojokan Pantai Sindhu. Hyde Park Corner namanya. Disitulah aq biasanya menghabiskan hari-hariku. Suatu malam seorang teman lama dari Inggris datang berkunjung. Namanya Michael Hithchcock. Seorang dosen di salah satu universitas di Inggris. Kepadanya aq bercerita banyak tentang pengalaman baruku
Keesokan harinya dia datang lagi ke restoran sambil membawa beberapa buku tentang batik, dia bilang bahwa aq harus lebih banyak membaca tentang batik.
Tahukah teman, bukannnya aq ini tak tahu terima kasih, tentu saja aq bilang thank you ke dia… tapi yang bikin hati ini ciut, semua buku-buku itu dalam teks bahasa Inggris, bok!
Mana dia katakana lagi kalau dia akan kirimi aq lebih banyak buku sesampainya dia di London. Onde mande tusde… apa boleh buat, apa mau dikata… hati ini telah jantuh cinta pada batik. Itulah teman ; semua karena cinta !!!
Awalnya agak malas juga membacanya, satu halaman dua halaman tanpa tersa sudah ½ buku aq lewati dan aq semakin terperangah… Wow !!!
Life is Adventure!!!
The bomb attack in Kuta had a great influence on my thinking and that is why I went to Java in order to overcome my troubles I had in Bali. It was during that time I lost my mother as well as my restaurant in Sanur. I started to take a course in handwork batik, not stamp or print, but the traditional “resist dye” method, with the so called “canting” to draw and cover silk or cotton.
Why did I choose batik?
As long as I can remember, as a little girl, I saw how my mother made the “ritual of the burning root “, which gave the specific scent to the batik. My mother sold and collected batik also. Sometimes she took me for “hunting” batiks too.
The basics I learned from the course, but the real making of batik, the way I do it now, took many books and articles to read before getting to the core of batik making.
During some 8 months I traveled to many villages, known for their batik culture, and during that period I really learned how to approach batik an make it as well. Later I found out, that the people in Java know how to produce batik, but most of them don’t really know how to appreciate it.
As for the Balinese people; they appreciate batik very much, but they don’t have the skill to produce.
From that point of view I started to develop my own style, with the aid of two students from ISI in Denpasar who supported me with designing.
Working from tradition I developed my own way; more freedom in design but still mixed with traditional style. Because of the popularity for Bali among western tourists, some influence from Europe is visible in my design too.
`Batik Wong Bali`, literally: “batik of the Balinese people”, was founded in 2005, from an idea, a hope and a dream that one day Balinese can make their own batik with their own style.
Welcome to BATIK WONG BALI |